Dieng Plateau: Kompleks Candi Tertua dan Fenomena Embun Es di Atas Awan
Dataran Tinggi Dieng, yang terletak di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur, adalah destinasi yang menyajikan perpaduan unik antara kekayaan sejarah dan fenomena alam yang luar biasa. Dieng, yang namanya berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti “tempat bersemayamnya dewa-dewa,” adalah rumah bagi Kompleks Candi Tertua di Jawa dan merupakan satu-satunya tempat di Indonesia di mana fenomena embun es (frost) rutin terjadi di musim kemarau. Kehadiran Kompleks Candi Tertua yang berasal dari masa Dinasti Syailendra (sekitar abad ke-7 dan ke-8 Masehi) di tengah lanskap vulkanik aktif menjadikan Dieng sebagai laboratorium alam dan sejarah terbuka yang unik.
Warisan Sejarah: Kompleks Candi Tertua
Candi-candi di Dieng merupakan peninggalan Hindu tertua yang masih berdiri di Jawa, mendahului Candi Borobudur dan Prambanan. Candi-candi ini tersebar dalam beberapa kelompok, seperti Kelompok Candi Arjuna, Candi Gatotkaca, dan Candi Bima. Meskipun ukurannya relatif kecil dan sederhana dibandingkan candi era Mataram Kuno yang lebih besar, arsitekturnya memberikan wawasan penting tentang perkembangan arsitektur Hindu di Nusantara.
Studi yang dilakukan oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) pada tahun 2024 mengonfirmasi bahwa penanggalan Candi Arjuna, yang merupakan bagian dari Kompleks Candi Tertua ini, memang menunjukkan usia tertua. Upaya pelestarian di situs ini sangat ketat; setiap kegiatan pemugaran harus mendapatkan izin resmi, dan area di sekitar candi dilindungi dari pengembangan komersial yang tidak sesuai. Candi-candi ini berfungsi sebagai pusat ibadah dan pendidikan agama Hindu di masa lalu. Bahkan, pada hari-hari tertentu, seperti peringatan hari besar Hindu, patroli gabungan dari Kepolisian Sektor (Polsek) setempat dan petugas BPCB dilakukan untuk memastikan keamanan dan ketertiban.
Keajaiban Alam: Fenomena Embun Es
Selain nilai historisnya, Dieng terkenal karena fenomena alam langka, yaitu embun es. Fenomena ini biasanya terjadi saat puncak musim kemarau, antara bulan Juni hingga Agustus, ketika suhu udara di malam hari turun drastis hingga di bawah titik beku (0∘C), terutama di wilayah Candi Arjuna dan Kawah Sikidang.
Embun es terbentuk karena dataran tinggi Dieng (2.000 meter dpl) memiliki topografi terbuka yang membuat pelepasan panas bumi ke atmosfer terjadi sangat cepat, menyebabkan suhu permukaan tanah dan vegetasi turun drastis. Fenomena ini biasanya terlihat jelas pada pagi hari, sekitar pukul 05.00 WIB hingga 07.00 WIB, sebelum matahari terbit sempurna.
Fenomena “salju” lokal ini menjadi daya tarik besar bagi wisatawan, namun juga membawa tantangan bagi petani kentang lokal. Penurunan suhu ekstrem dapat merusak komoditas pertanian. Oleh karena itu, Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG) secara rutin mengeluarkan prakiraan cuaca ekstrem pada periode tersebut. Dieng Plateau dengan Kompleks Candi Tertua di satu sisi dan fenomena embun es yang dingin di sisi lain, benar-benar menawarkan dualisme yang memukau antara peradaban kuno dan keajaiban alam.


