FAKTA JATENG

Loading

Borobudur dan Prambanan: Dua Mahakarya Dunia, Menyatukan Ajaran Buddha dan Hindu Kuno

Borobudur dan Prambanan: Dua Mahakarya Dunia, Menyatukan Ajaran Buddha dan Hindu Kuno

Di Pulau Jawa bagian tengah, berdiri dua kompleks candi monumental yang telah diakui sebagai Warisan Dunia oleh UNESCO: Borobudur dan Prambanan. Kedua situs ini, meskipun menganut agama yang berbeda—Borobudur sebagai candi Buddha terbesar di dunia dan Prambanan sebagai kompleks candi Hindu terbesar di Indonesia—berdiri berdekatan dan mencerminkan toleransi serta kejayaan peradaban Jawa kuno. Keduanya tidak hanya menjadi destinasi wisata, tetapi juga pusat pembelajaran sejarah dan arsitektur yang menunjukkan bagaimana ajaran Buddha dan Hindu hidup berdampingan. Borobudur dan Prambanan adalah bukti fisik keharmonisan yang luar biasa. Perjalanan ke Jawa Tengah dan Yogyakarta tidak lengkap tanpa mengagumi Borobudur dan Prambanan.

Candi Borobudur didirikan pada abad ke-8 di bawah Dinasti Syailendra. Secara arsitektural, Borobudur merupakan stupa besar berbentuk piramida berundak yang merepresentasikan tiga alam semesta dalam kosmologi Buddha: Kamadhatu (dunia hawa nafsu) di kaki candi, Rupadhatu (dunia rupa) di tingkatan tengah dengan galeri relief naratif, dan Arupadhatu (dunia tanpa rupa) di tiga pelataran melingkar dengan stupa berongga yang menaungi arca Buddha. Relief-relief yang membentang lebih dari 2.500 meter menceritakan kisah-kisah Jataka dan Lalitavistara (riwayat hidup Buddha Siddharta Gautama).

Sementara itu, Candi Prambanan dibangun sekitar abad ke-9, sekitar 50 tahun setelah Borobudur selesai, oleh Dinasti Sanjaya. Prambanan didedikasikan untuk Trimurti (tiga dewa utama Hindu): Brahma (Pencipta), Wishnu (Pemelihara), dan Siwa (Pelebur). Candi Siwa, yang tertinggi, dikelilingi oleh candi-candi kecil, menciptakan mandala Hindu. Relief utama di Prambanan menceritakan epik Ramayana, yang dibaca secara pradaksina (searah jarum jam). Keindahan Prambanan terletak pada arsitektur Raras dan Prasada-nya yang tinggi dan ramping, kontras dengan Borobudur yang melebar dan masif.

Keberadaan kedua mahakarya ini dalam jarak yang relatif dekat (sekitar 50 km) menunjukkan periode politik dan agama yang stabil di Jawa kuno. Meskipun agama yang dominan berganti dari Syailendra (Buddha) ke Sanjaya (Hindu) pada abad ke-9, pembangunan kedua kompleks ini menunjukkan bahwa agama-agama tersebut tidak saling menghancurkan, melainkan saling mempengaruhi dan hidup berdampingan. Kedua candi ini sempat terkubur oleh abu vulkanik dan gempa bumi selama ratusan tahun, dan baru ditemukan serta direstorasi besar-besaran oleh pemerintah kolonial Belanda dan Republik Indonesia. Restorasi terakhir Prambanan pasca gempa bumi Yogyakarta 2006, yang melibatkan 450 pekerja restorasi dan ahli arkeologi, selesai pada tahun 2012. Upaya ini memastikan bahwa warisan unik ini akan terus menginspirasi generasi mendatang tentang keagungan budaya dan toleransi agama di masa lalu.