FAKTA JATENG

Loading

Candi Borobudur: Mahakarya Buddha Terbesar di Dunia (Warisan Sejarah dan Spiritual)

Candi Borobudur: Mahakarya Buddha Terbesar di Dunia (Warisan Sejarah dan Spiritual)

Berdiri megah di jantung Jawa Tengah, Candi Borobudur adalah sebuah monumen Buddha yang tak tertandingi, diakui sebagai World Heritage Site oleh UNESCO dan diklaim sebagai monumen Buddha terbesar di dunia. Bukan hanya struktur fisik yang mengagumkan, Candi Borobudur adalah representasi visual dari ajaran Buddha yang disusun dalam tiga tingkatan alam semesta (Kamadhatu, Rupadhatu, dan Arupadhatu). Diduga dibangun antara abad ke-8 dan ke-9 Masehi pada masa Dinasti Syailendra, Candi Borobudur menjadi simbol kejayaan peradaban Jawa kuno dan spiritualitas Asia Tenggara.

1. Struktur Arsitektur dan Makna Filosofis

Desain Candi Borobudur berbentuk stupa besar yang terdiri dari sembilan teras berundak. Enam teras di bawah berbentuk persegi, dan tiga teras di atas berbentuk lingkaran, melambangkan perjalanan jiwa dari dunia nafsu menuju nirwana.

  • Kamadhatu (Dunia Nafsu): Bagian dasar candi, melambangkan kehidupan yang masih terikat nafsu duniawi. Relief di bagian ini (meski sebagian besar tertutup) menggambarkan hukum karma (Karmawibhangga).
  • Rupadhatu (Dunia Rupa): Enam teras persegi yang berisi relief naratif terpanjang di dunia, membentang total lebih dari $2.500 \text{ panel}$. Relief ini menceritakan kisah kehidupan Buddha Gautama (Lalitavistara) dan berbagai kisah Bodhisattva lainnya.
  • Arupadhatu (Dunia Tak Berwujud): Tiga teras melingkar teratas yang dihiasi 72 stupa berlubang, masing-masing berisi satu patung Buddha. Puncaknya adalah satu stupa raksasa yang melambangkan nirwana atau kesempurnaan.

2. Sejarah Penemuan dan Restorasi

Setelah ditinggalkan, kemungkinan karena perpindahan pusat kekuasaan ke Jawa Timur atau letusan Gunung Merapi, candi ini sempat terkubur oleh abu vulkanik dan vegetasi selama berabad-abad.

  • Penemuan Kembali: Candi ini ditemukan kembali pada tahun 1814 oleh Sir Thomas Stamford Raffles, Gubernur Jenderal Britania Raya saat itu, yang kemudian memerintahkan pembersihan dan pencatatan awal.
  • Restorasi UNESCO: Restorasi besar-besaran yang monumental dilakukan oleh Pemerintah Indonesia bersama UNESCO pada tahun 1973 hingga 1983. Proyek ini melibatkan pembongkaran dan pemasangan kembali lebih dari satu juta batu candi. Biaya restorasi ini mencapai sekitar US$ $25 \text{ juta}$ pada saat itu, menunjukkan komitmen besar terhadap pelestarian warisan dunia.

3. Peran Spiritual dan Kebudayaan

Hingga hari ini, Candi Borobudur tetap menjadi pusat spiritual yang hidup.

  • Perayaan Waisak: Setiap tahun, Candi Borobudur menjadi lokasi utama perayaan Hari Raya Waisak, di mana ribuan umat Buddha dari Indonesia dan mancanegara berkumpul untuk melakukan ritual pradaksina (berjalan mengelilingi candi searah jarum jam) dan pelepasan lampion.
  • Wisata dan Regulasi: Untuk menjaga kelestarian batu-batu candi, terutama relief yang rentan aus, Otoritas Pengelola Balai Konservasi Candi Borobudur pada akhir tahun 2023 mulai menerapkan pembatasan jumlah pengunjung yang diizinkan naik ke struktur utama candi setiap harinya.