Fenomena Embun Upas (Salju Jawa) di Dataran Tinggi Dieng: Keajaiban Alam dan Dampaknya pada Pertanian
Dataran Tinggi Dieng, yang berada di ketinggian lebih dari 2.000 meter di atas permukaan laut, dikenal memiliki keindahan alam yang memukau. Namun, pada pertengahan musim kemarau, kawasan ini menyuguhkan tontonan alam yang unik dan langka di wilayah tropis, yaitu Fenomena Embun Upas. Dikenal juga dengan sebutan “Salju Jawa” oleh masyarakat setempat, Fenomena Embun Upas adalah butiran es halus yang menyelimuti permukaan tanah, rumput, dan dedaunan. Kejadian ini merupakan hasil dari suhu udara ekstrem yang turun hingga di bawah titik beku (minus 0∘ Celcius) saat malam hari. Puncak kemunculan fenomena ini biasanya terjadi antara bulan Juni hingga Agustus. Catatan dari Stasiun Meteorologi setempat menunjukkan bahwa pada pagi hari Kamis, 18 Juli 2024, suhu udara di Kompleks Candi Arjuna Dieng sempat menyentuh angka terendah musim itu, yaitu −2,5∘ Celcius, memicu pembentukan lapisan es yang tebal.
Secara ilmiah, Fenomena Embun Upas terjadi karena radiasi panas bumi dilepaskan ke atmosfer tanpa adanya awan yang menahan, menyebabkan pendinginan permukaan yang cepat. Uap air di udara kemudian menyublim langsung menjadi kristal es saat bersentuhan dengan permukaan yang sangat dingin. Kehadiran embun upas ini selalu menarik perhatian wisatawan, baik domestik maupun mancanegara, yang berbondong-bondong datang untuk menyaksikan “salju” di khatulistiwa. Untuk mengantisipasi lonjakan pengunjung dan menjaga ketertiban, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Banjarnegara, bekerja sama dengan aparat keamanan, telah meningkatkan pengawasan. Khusus selama puncak musim dingin pada bulan Juli 2024, Kepolisian Sektor (Polsek) di wilayah tersebut menugaskan 8 personil tambahan setiap akhir pekan untuk mengatur lalu lintas dan area parkir di sekitar lokasi utama, seperti kawasan Candi dan Kawah Sikidang.
Meskipun mempesona, Fenomena Embun Upas membawa dampak serius, terutama pada sektor pertanian yang menjadi mata pencaharian utama penduduk Dieng. Tanaman sayuran dataran tinggi, khususnya kentang dan wortel, sangat rentan terhadap paparan kristal es ini. Lapisan es yang membeku dapat merusak jaringan sel pada daun dan batang, menyebabkan kerusakan yang dikenal sebagai cold stress. Dampak ini sering kali memicu gagal panen parsial hingga total. Data dari Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) setempat mencatat bahwa pada musim kemarau tahun 2023, kerugian akibat embun upas diperkirakan mencapai sekitar Rp 3,2 miliar, dengan luas lahan yang terdampak mencapai 450 hektar.
Untuk mengurangi kerugian, pemerintah daerah dan penyuluh pertanian gencar memberikan edukasi dan solusi adaptasi kepada petani. Salah satu solusi yang direkomendasikan adalah penanaman varietas kentang yang lebih tahan dingin dan penggunaan teknologi penutup tanaman (sungkup) pada malam hari. Selain itu, pada hari Sabtu, 3 Agustus 2024, digelar workshop mitigasi dampak embun upas yang dihadiri oleh 200 petani lokal. Dalam workshop tersebut, para petani dilatih teknik pengasapan ringan untuk meningkatkan suhu udara di lapisan bawah kanopi tanaman. Melalui kombinasi intervensi ilmiah, dukungan pemerintah, dan kearifan lokal, masyarakat Dieng berupaya mencari keseimbangan antara keajaiban alam dari Embun Upas dan keberlanjutan pertanian dataran tinggi mereka.


