Keunikan Tradisi Grebeg Besar: Perayaan Keagamaan yang Penuh Kemeriahan di Demak
Kota Demak, Jawa Tengah, dikenal sebagai pusat penyebaran Islam tertua di Jawa, dengan Masjid Agung Demak sebagai ikon spiritualnya. Di kota ini, setiap tahun, diselenggarakan sebuah ritual keagamaan dan kebudayaan yang meriah, dikenal sebagai Grebeg Besar. Perayaan ini adalah simbol akulturasi antara ajaran Islam yang dibawa oleh para Wali Songo dengan budaya lokal, menjadikannya sebuah Keunikan Tradisi yang tak ternilai harganya. Grebeg Besar diselenggarakan setiap tanggal 10 Dzulhijjah, bertepatan dengan Hari Raya Idul Adha. Ritual ini dipercaya telah ada sejak masa Kesultanan Demak pada abad ke-15 Masehi. Nama ‘Grebeg’ sendiri merujuk pada keramaian atau gegap gempita, mencerminkan semangat kebersamaan masyarakat.
Puncak dari Keunikan Tradisi Grebeg Besar adalah prosesi Tumpeng Sanga, yang merupakan arak-arakan sembilan nasi tumpeng raksasa, melambangkan sembilan Wali (Wali Songo) yang menyebarkan Islam di Jawa. Tumpeng-tumpeng tersebut dihiasi dengan hasil bumi dan makanan khas lokal, kemudian diarak dari Pendopo Kabupaten menuju ke Masjid Agung Demak. Ribuan masyarakat dan wisatawan tumpah ruah di sepanjang jalur arak-arakan untuk menyaksikan dan berebut isi tumpeng setelah didoakan, sebagai simbol berkah. Prosesi ini sangat dijaga ketertibannya. Berdasarkan keterangan dari Kepala Bagian Operasi Polres Demak, pada tahun lalu, tepatnya hari Senin, 17 Juni 2024, sebanyak 500 personel gabungan dikerahkan untuk memastikan kelancaran prosesi Grebeg Besar.
Selain arak-arakan tumpeng, Keunikan Tradisi ini juga mencakup ritual adat lainnya yang sangat dihormati, yaitu Pencucian Jimat. Ritual ini adalah pencucian benda-benda pusaka milik Kesultanan Demak, seperti Keris Kyai Ganjur dan tombak-tombak bersejarah. Pencucian pusaka ini dilakukan secara tertutup oleh pihak keluarga Keraton dan juru kunci, namun air bekas pencucian (disebut tirta) dipercaya membawa keberkahan dan sering diperebutkan oleh masyarakat. Ritual ini melambangkan pembersihan diri dan penyucian segala bentuk keburukan menjelang tahun baru Islam. Keunikan Tradisi ini tidak hanya sekadar pertunjukan, tetapi juga sarana untuk memperkuat nilai-nilai spiritual dan sosial.
Selama seminggu sebelum perayaan utama, di Alun-Alun Demak juga digelar pasar malam rakyat atau sekaten (sering disebut Maleman). Pasar ini menjadi ajang promosi kerajinan lokal dan kuliner khas Demak. Selain itu, kegiatan ini juga berfungsi sebagai ruang bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Menurut data dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Demak, pada perayaan Grebeg Besar tahun lalu, omset yang dihasilkan oleh UMKM selama Maleman mencapai angka fantastis, yaitu sekitar 3,5 miliar Rupiah, menunjukkan dampak ekonomi yang signifikan. Melalui Grebeg Besar, Demak berhasil menampilkan perpaduan yang harmonis antara dakwah Islam, pelestarian adat, dan penggerak ekonomi, menjadikan ritual ini sebagai salah satu warisan budaya Jawa Tengah yang wajib disaksikan.


