FAKTA JATENG

Loading

Lumpia Semarang: Menguak Rahasia Isi Rebung yang Manis dan Gurih Ikonik

Lumpia Semarang: Menguak Rahasia Isi Rebung yang Manis dan Gurih Ikonik

Lumpia Semarang adalah salah satu kuliner legendaris Indonesia yang tak lekang oleh waktu, menjadi simbol akulturasi budaya Tionghoa dan Jawa di ibu kota Jawa Tengah. Makanan ini terkenal karena memiliki rasa yang khas, yakni perpaduan manis dan gurih yang unik, dan rahasia kelezatan tersebut terletak pada isian rebung (tunas bambu) yang diolah dengan sangat hati-hati. Sejarah Lumpia Semarang diperkirakan berawal pada abad ke-19, dimulai dari pasangan Tionghoa bernama Tjoa Thay Joe dan istrinya yang orang Jawa. Mereka menggabungkan resep popiah (lumpia Tionghoa) dengan bumbu lokal, menghasilkan citarasa yang disukai berbagai kalangan masyarakat dan menjadi identitas kuliner kota tersebut.

Faktor kunci yang membuat Lumpia Semarang berbeda dari lumpia lain di Indonesia adalah cara pengolahan rebungnya. Rebung secara alami memiliki rasa sedikit pahit dan aroma yang kuat; oleh karena itu, proses merebus dan pengolahannya harus dilakukan berulang kali dengan teknik khusus untuk menghilangkan rasa pahit tersebut. Rebung yang sudah bersih kemudian ditumis bersama dengan udang, telur, daging ayam atau sapi cincang, dan bumbu-bumbu rempah seperti bawang putih, merica, dan kecap manis yang memberikan sentuhan Manis dan Gurih Ikonik. Proporsi kecap manis yang tepat inilah yang memberikan kekhasan rasa Manis dan Gurih Ikonik pada Lumpia Semarang, membedakannya dengan lumpia di daerah lain yang cenderung lebih asin.

Setiap lumpia disajikan dengan saus kental berwarna cokelat yang terbuat dari campuran tepung kanji, gula Jawa, dan udang kering (ebi), serta ditemani acar mentimun dan cabai rawit utuh. Lumpia dapat dinikmati dalam dua varian: basah (tidak digoreng) atau goreng. Varian goreng memiliki tekstur luar yang renyah berkat proses penggorengan menggunakan minyak panas dengan suhu stabil, yang memastikan kulit tidak gosong tetapi matang merata. Untuk menjaga kualitas dan keaslian, beberapa brand legendaris Lumpia Semarang menggunakan resep yang diwariskan secara turun-temurun selama lima hingga enam generasi.

Sebagai informasi penting yang relevan, pada masa liburan sekolah bulan Juni 2024, salah satu produsen lumpia ikonik mencatat peningkatan produksi hingga 400%, memproduksi rata-rata 5.000 buah lumpia per hari untuk memenuhi permintaan pasar. Fenomena ini menunjukkan betapa tingginya permintaan terhadap kudapan khas ini, menjadikannya oleh-oleh wajib. Keberhasilan Lumpia Semarang sebagai warisan kuliner bukan hanya karena rasanya, tetapi juga karena kemampuannya menceritakan sejarah akulturasi yang harmonis.