FAKTA JATENG

Loading

Ruwat Murwakala: Tradisi Penolak Bala dalam Budaya Jawa

Ruwat Murwakala: Tradisi Penolak Bala dalam Budaya Jawa

Dalam khazanah budaya Jawa, terdapat sebuah tradisi adiluhung yang dikenal sebagai Ruwat Murwakala. Ritual ini merupakan upacara pensucian atau tolak bala yang dipercaya dapat menghilangkan kesialan, nasib buruk, atau sengkala (kesusahan) yang menimpa seseorang atau suatu keluarga. Ruwat Murwakala seringkali dilakukan ketika seseorang diyakini berada di bawah pengaruh Bathara Kala, sosok raksasa dalam mitologi Jawa yang identik dengan kesialan. Prosesi ini sarat akan simbolisme dan filosofi yang mendalam, mencerminkan pandangan hidup masyarakat Jawa tentang keseimbangan alam semesta.

Upacara Ruwat Murwakala biasanya dipimpin oleh seorang dalang Wayang Kulit. Dalang tidak hanya memainkan wayang, tetapi juga berperan sebagai spiritualis yang memahami pakem dan mantra-mantra yang diperlukan. Kisah yang dimainkan dalam pertunjukan wayang kulit adalah lakon Murwakala, yang menceritakan asal-usul Bathara Kala dan cara menetralkan kekuatannya. Sebagai contoh, pada Jumat Kliwon, 20 September 2024, di pendopo rumah Bapak Suryo di Klaten, Jawa Tengah, sebuah keluarga menyelenggarakan Ruwat Murwakala untuk anak bungsu mereka yang kerap mengalami musibah. Dalang Ki Agung Nugroho memimpin seluruh prosesi selama semalam suntuk, diikuti khidmat oleh keluarga dan kerabat.

Selama upacara, berbagai sesaji disiapkan sebagai persembahan simbolis, seperti tumpeng, jajanan pasar, dan berbagai jenis bunga. Setiap elemen sesaji memiliki makna filosofis tersendiri yang berkaitan dengan tujuan pensucian. Selain itu, orang yang diruwat akan melewati beberapa ritual, seperti siraman air kembang dan prosesi potong rambut simbolis. Prosesi ini bertujuan untuk membersihkan diri dari segala hal negatif yang melekat. Bahkan, pada beberapa tradisi, ada keterlibatan tokoh adat setempat, seperti Juru Kunci makam keramat yang dihormati, untuk memberikan restu dan doa.

Meskipun terlihat kuno, Ruwat Murwakala terus lestari hingga kini, terutama di kalangan masyarakat Jawa yang masih memegang teguh tradisi. Ia bukan sekadar ritual magis, melainkan juga sarana untuk menjaga keseimbangan spiritual, mempererat tali silaturahmi keluarga, dan melestarikan warisan budaya leluhur yang kaya akan makna.