Tradisi Grebeg Besar di Solo: Parade Budaya Keraton yang Meriah dan Kaya Makna Filosofis
Kota Solo, Jawa Tengah, memiliki salah satu warisan budaya keraton yang paling megah dan ditunggu-tunggu, yaitu Tradisi Grebeg Besar. Acara ini merupakan puncak perayaan hari besar Islam, khususnya Idulfitri dan Iduladha, namun Grebeg Besar yang paling meriah secara historis selalu dikaitkan dengan perayaan Iduladha. Tradisi Grebeg Besar diselenggarakan oleh Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat sebagai wujud syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa dan sekaligus sebagai sarana berbagi hasil bumi kepada rakyat. Ritual ini secara khusus menarik perhatian karena menampilkan Gunungan, yaitu susunan raksasa dari hasil bumi (sayuran dan makanan ringan) yang dibawa dalam sebuah prosesi agung. Keunikan tradisi ini menjadikannya daya tarik utama pariwisata budaya di Solo.
Prosesi Tradisi Grebeg Besar dimulai di dalam kompleks keraton, di mana Gunungan (terdiri dari Gunungan Kakung atau laki-laki dan Gunungan Estri atau perempuan) diarak keluar melalui Kori Kamandungan (Gerbang Keraton) menuju Masjid Agung Surakarta. Prosesi ini dipimpin oleh para abdi dalem (pegawai keraton) yang mengenakan pakaian kebesaran adat Jawa lengkap, termasuk membawa tombak pusaka dan panji-panji kebesaran keraton. Di Masjid Agung, Gunungan diserahkan kepada ulama dan tokoh masyarakat untuk didoakan sebelum dibagikan kepada rakyat. Masyarakat meyakini bahwa mengambil bagian dari Gunungan tersebut, yang biasa disebut Ngrayah Gunungan, akan membawa berkah, rezeki melimpah, dan keselamatan. Pada perayaan Iduladha tahun 1445 Hijriah yang jatuh pada Senin, 17 Juni 2024, Keraton Surakarta menyiapkan dua pasang Gunungan yang berat totalnya diperkirakan mencapai 2 ton.
Aspek pengamanan dalam Tradisi Grebeg Besar selalu menjadi prioritas utama mengingat antusiasme masyarakat yang luar biasa saat Gunungan dibagikan. Pihak Kepolisian Resort Kota (Polresta) Surakarta bersama Kodim 0735/Surakarta dan Pecalang (keamanan adat keraton) biasanya mengerahkan sedikitnya 500 personel gabungan untuk mengatur massa dan memastikan prosesi berjalan tertib dan aman. Pengamanan dimulai sejak pukul 08.00 WIB dari pintu Keraton hingga Gunungan selesai dibagikan sekitar pukul 11.00 WIB. Filosofi dari Gunungan itu sendiri adalah simbol kemakmuran dan kesuburan, serta representasi gunung sebagai tempat suci. Gunungan Kakung melambangkan dunia laki-laki (maskulin) dan Gunungan Estri melambangkan dunia perempuan (feminin). Melalui Grebeg Besar ini, Keraton Surakarta berhasil menjaga tali silaturahmi dengan rakyat dan melestarikan warisan adiluhung budaya Mataram Islam.


