FAKTA JATENG

Loading

Wisata Kuliner Solo: Dari Nasi Liwet hingga Selat Solo yang Menggugah Selera

Wisata Kuliner Solo: Dari Nasi Liwet hingga Selat Solo yang Menggugah Selera

Kota Surakarta, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Solo, adalah salah satu pusat kebudayaan Jawa yang kental dengan tradisi keraton, dan kekayaan budayanya tak lepas dari kulinernya. Melakukan Wisata Kuliner Solo adalah sebuah perjalanan rasa yang membawa kita menyelami sejarah dan kearifan lokal. Berbagai hidangan khas Solo, mulai dari makanan comfort food yang sederhana hingga hidangan fusion ala bangsawan, selalu berhasil memikat lidah pengunjung. Wisata Kuliner Solo bukan hanya tentang menikmati makanan, tetapi juga merasakan suasana yang otentik dan hangat. Oleh karena itu, bagi setiap wisatawan yang berkunjung ke Jawa Tengah, meluangkan waktu untuk Wisata Kuliner Solo adalah suatu keharusan.


Nasi Liwet: Simbol Kehangatan Khas Solo

Tidak ada hidangan yang lebih identik dengan Solo selain Nasi Liwet. Makanan ini adalah comfort food sejati yang menawarkan perpaduan rasa gurih dan tekstur yang lembut. Nasi liwet dimasak dengan santan, daun salam, dan serai, menghasilkan aroma yang menggugah selera.

Nasi liwet disajikan dengan lauk-pauk sederhana namun kaya rasa, meliputi:

  • Ayam Suwir: Daging ayam yang diolah dengan santan kental dan bumbu kuning.
  • Sayur Labu Siam: Sayur yang dimasak dengan kuah santan pedas.
  • Telur Pindang: Telur yang direbus dengan bumbu dan rempah hingga berwarna cokelat.
  • Areh: Topping kental berwarna putih dari santan yang dimasak lama, memberikan rasa manis dan gurih ekstra.

Nasi liwet secara tradisional dijual pada sore hingga malam hari. Salah satu sentra Nasi Liwet paling terkenal adalah Keprabon, di mana penjual menjajakan dagangannya secara lesehan. Berdasarkan data dari Dinas Pariwisata Kota Surakarta pada bulan Mei 2024, kawasan Keprabon dikunjungi rata-rata 800 pelanggan setiap malam Minggu, menunjukkan popularitasnya yang tak pernah padam.


Selat Solo: Fusion Food Ala Keraton

Selat Solo adalah contoh sempurna dari akulturasi budaya. Hidangan ini sering disebut sebagai steak Jawa karena merupakan adaptasi dari kuliner Eropa (Belanda) yang disesuaikan dengan lidah Jawa. Kata “Selat” sendiri diyakini berasal dari kata salad.

Selat Solo disajikan dengan kuah manis kecokelatan yang terbuat dari kaldu sapi dan rempah, berbeda dengan gravy Eropa. Di dalamnya terdapat irisan daging sapi has dalam yang dimasak hingga empuk, telur rebus, buncis, wortel, kentang goreng (french fries), dan tak lupa, mayones khas Selat Solo yang terbuat dari kuning telur dan cuka. Hidangan ini tidak hanya lezat tetapi juga eye-catching karena penataan yang rapi dan penuh warna.

Kuliner Legendaris Lainnya dan Keamanan

Selain dua ikon tersebut, Wisata Kuliner Solo juga menawarkan varian lain seperti: Sate Buntel (daging kambing cincang yang dibungkus lemak dan dibakar), Tengkleng (sup tulang kambing dengan kuah kaya rempah), dan Srabi Notosuman (pancake tradisional yang manis).

Mengingat kepadatan pengunjung di pusat-pusat kuliner Solo, pihak berwenang selalu memastikan keamanan dan ketertiban. Selama pelaksanaan Festival Kuliner Surakarta yang diselenggarakan pada tanggal 5-7 Juli 2025, Kepolisian Sektor Pasar Kliwon menurunkan 30 personel per hari untuk mengamankan area festival dan mengatur lalu lintas. Upaya ini memastikan bahwa wisatawan dapat fokus menikmati perjalanan rasa mereka tanpa perlu khawatir.

Dengan kekayaan varian rasa, harga yang terjangkau, dan suasana yang ramah, Solo tetap menjadi destinasi primadona bagi pecinta kuliner di Indonesia.